Blog Pekerja

Sertifikasi SDPPI & Kontraktor Kolam Renang

Mengintip Canggihnya Sistem TV Satelit

Dulu sewaktu saya baru pertama kali mengenal saluran TV kabel, saya terpesona sekali dengan gambarnya yang cukup bersih dan pilihan saluran yang banyak sekali. Belum lama ini, saya baru tahu kalau sekarang juga sudah ada yang namanya TV satelit, yang gambarnya katanya lebih kinclong dan pilihan salurannya jauh lebih banyak lagi. Saya jadi penasaran, apa TV satelit sebenarnya. Sebenarnya ada satu lagi yang saya juga masih penasaran, yaitu apa sih itu internet satelit? Kalau anda juga penasaran silahkan di cek artikelnya ya.

Secara konsep, TV satelit adalah sistem nirkabel untuk mengantarkan program televisi secara langsung pada rumah pemirsanya, sedangkan TV siaran dan TV pemancar menyiarkan programnya melalui sinyal radio.

Sebelum masuk ke sistem TV satelit, mari kita lihat dulu awal dari semuanya, yaitu stasiun penyiaran yang menggunakan antena untuk memancarkan gelombang radio ke area sekitarnya. Pengguna nanti bisa menangkap sinyal dengan antena yang lebih kecil – seperti antena yang masih banyak kita lihat di atas rumah.

Batasan utama dari TV pemancar adalah jarak jangkauan. Sinyal radio digunakan untuk menyiarkan siaran televisi melalui antena pemancar dalam garis lurus. Untuk menangkap sinyal ini, anda harus berada dalam garis yang lurus dengan antena. Halangan kecil seperti pohon atau bangunan kecil tidak jadi masalah; halangan yang besar, seperti bumi, akan memantulkan gelombang radio ini.

Kalau bumi sangat rata, pasti anda bisa menangkap pancaran meskipun berada ribuan kilometer dari sumber. Tapi karena planet bumi secara alami berbentuk melengkung, jangkauan garis sinyal bisa terputus. TV pancaran juga sinyalnya seringkali terganggu, bahkan di area yang dekat. Untuk mendapatkan sinyal yang jelas seperti TV kabel, anda harus berada cukup dekat dengan antena pemancar tanpa terlalu banyak hal yang menghalangi.

Nah, TV satelit memecahkan masalah jarak dan gangguan dengan memancarkan sinyal pancaran dari satelit yang mengelilingi orbit bumi. Karena satelit berada tinggi di atas langit, lebih banyak pelanggan yang bisa dijangkau. Sistem TV satelit memancarkan dan menerima sinyal radio menggunakan antena khusus yang disebut parabola satelit.

Para penikmat satelit TV pada awal kemunculannya dulu termasuk petualang loh. Mereka bisa menggunakan parabola untuk menemukan siaran khusus yang sebenarnya bukan untuk khalayak umum, dengan menggunakan parabola dan alat penerima. Bahkan mereka bisa menangkap siaran stasiun luar negeri, aktivitas NASA, dan berbagai hal lain yang dipancarkan melalui satelit.

Beberapa pemilik satelit masih mencari sendiri siaran seperti itu, tapi kebanyakan pelanggan TV satelit sekarang mendapatkan siarannya melalui provider Direct Broadcast Satellite (DBS). providerlah yang memilih program dan menyiarkannya pada pelanggan sebagai bagian dari paket. Tujuan penyedia jasa adalah memberikan TV anda puluhan, bahkan ratusan saluran dalam bentuk yang mirip saingannya, TV kabel.

Tidak seperti siaran sebelumnya, pemancaran oleh provider sepenuhnya dilakukan secara digital, yang berarti kualitas gambar dan suara lebih baik. Televisi satelit awal dipancarkan pada radio C-Band – radio dalam jangkauan frekuensi 3.7 GHz hingga 6.4 GHz. Satelit penyiaran digital memancarkan siaran pada jangkauan frekuensi Ku (11.7 GHz hingga 14.5 GHz).

Komponen TV Satelit

Ada 5 komponen utama yang terlibat dalam sistem satelit direct to home (DTH) atau direct broadcasting (DBS), yaitu:direct broadcasting satellite - TV Satelit

  1. Sumber siaran adalah saluran yang memberikan tontonan untuk disiarkan. Penyedia jasa tidak menciptakan konten penyiarannya sendiri, tetapi membayar perusahaan lain (misalnya HBO atau ESPN) untuk mendapatkan hak menyiarkan konten mereka melalui satelit. Dengan cara ini, penyedia jasa seperti perantara antara anda dan sumber siaran sebenarnya (perusahaan TV kabel juga bekerja dengan prinsip ini.)
  2. Pusat pemancar adalah pusat sistem utama. Di pusat penyiaran, penyedia jasa TV menerima sinyal dari berbagai sumber siaran dan memancarkan sinyal siaran pada satelit di orbit geosynchronous.
  3. Satelit menerima sinyal dari stasiun pemancar dan memancarkan ulang ke bumi.
  4. Parabola menangkap sinyal dari satelit dan meneruskannya pada penerima di rumah.
  5. Receiver atau penerima memproses sinyal dan meneruskannya pada TV.

Baca juga Receiver Venus VD Tucxon HD

Siaran TV Satelit

Penyedia jasa TV satelit mendapatkan salurannya dari dua sumber utama: Saluran internasional (seperti HBO, ESPN, Arirang) dan berbagai saluran lokall (Net, MetroTV, KompasTV). Kebanyakan saluran internasional juga menyediakan tayangan untuk TV kabel, dan biasanya saluran lokal memancarkan siarannya melalui gelombang.

Saluran internasional biasanya memiliki pusat distribusi yang memancarkan salurannya pada satelit geosinkron – satelit yang memiliki periode rotasi yang sama dengan rotasi bumi. Pusat pemancar menggunakan parabola besar untuk menangkap sinyal analog dan digital dari beberapa sumber.

Karena kebanyakan stasiun lokal tidak memancarkan programnya pada satelit, jadi provider harus mendapatkannya dengan cara lain. Bila provider melibatkan saluran lokal di area tertentu, maka akan ada fasilitas lokal yang memiliki peralatan komunikasi. Peralatan tersebut akan menerima sinyal lokal secara langsung dari pemancar melalui kabel fiber optik atau antena, lalu memancarkannya ke pusat pemancar utama.

Pusat pemancar kemudian mengubah semua siaran ini menjadi aliran digital berkualitas tinggi yang tidak dikompresi atau dipadatkan. Pada titik ini, aliran tersebut mengandung banyak sekali data – sekitar 270 Mbps untuk setiap saluran. Agar bisa memancarkan sinyal dari sana, pusat pemancar harus memadatkan data, karena jika tidak, akan terlalu besar untuk ditangani satelit.

Ternyata menarik juga ya cara kerja TV satelit, tapi masih ada yang lebih seru lagi untuk anda simak. Anda juga pasti ingin kan tahu bagaimana perpindahan informasi pada sistem TV satelit.

Sinyal TV Satelit

Masih ada jalan panjang yang harus dilalui sinyal satelit sebelum akhirnya muncul di layar TV anda dalam bentuk acara TV favorit. Karena sinyal satelit mengandung data digital yang berkualitas sangat tinggi, tidak mungkin untuk memancarkannya tanpa kompresi atau pemadatan. Kompresi artinya informasi yang diulang atau tidak perlu, dihilangkan dari sinyal sebelum dipancarkan, dan nanti dibentuk kembali setelah transmisi.

Standar Kompresi

TV satelit menggunakan tipe khusus kompresi file video terstandar dengan Moving Picture Experts Group (MPEG). Dengan kompresi MPEG, provider mampu memancarkan jauh lebih banyak saluran. Ada beberapa jenis MPEG:

  • MPEG-1: Standar asli untuk encoding dan decoding file streaming video dan audio.
  • MPEG-2: Standar untuk televisi digital, mengkompresi file untuk transimi video kualitas tinggi.
  • MPEG-4: Standar untuk mengkompresi video high-definition menjadi file berukuran lebih kecil yang mengalir ke komputer atau telepon seluler.
  • MPEG-21: Juga dikenal sebagai Multimedia Framework.

Pada pusat siaran, aliran video digital kualitas tinggi melalui sebuah encoder MPEG, yang kemudian mengkonversi siaran menjadi video MPEG-4 dengan ukuran dan format yang sesuai untuk penerima satelit di rumah anda.

Encoding berhubungan dengan kompresi untuk menganalisa setiap frame video dan menghilangkan data yang tidak relevan untuk memprediksi informasi dari frame lain, untuk mengurangi ukuran keseluruhan file. Tiap frame dapat disandikan dengan satu dari tiga cara:

  • Sebagai sebuah intraframe, yang mengandung data gambar utuh untuk frame. Metode ini memberikan kompresi yang paling sedikit.
  • Sebagai sebuah predicted frame atau frame yang diprediksi, yang memberikan cukup informasi pada penerima satelit bagaimana menampilkan frame berdasarkan intraframe atau predicted frame yang baru saja ditampilkan. Sebuah predicted frame isinya hanya data yang menjelaskan bagaimana gambar telah berubah dari frame sebelumnya.
  • Sebagai bidirectional frame, yang menampilkan informasi dari intraframe atau predicted frame sekitarnya. Menggunakan data dari frame terdekat, penerima menambahkan posisi dan warna setiap pixel.

Enkripsi dan Transmisi

Lalu apa yang terjadi setelah video dikompres? Ternyata, provider lalu mengenkripsi supaya orang tidak bisa mengaksesnya secara gratis.

Enkripsi mengacak data digital dalam cara yang hanya bisa dipecahkan (dikembalikan menjadi data yang bisa dipakai) bila penerima memiliki algoritma dekripsi dan kunci keamanan yang benar.

Saat sinyal dikompresi dan dienkripsi, pusat penyiaran memancarkannya secara langsung pada salah satu satelitnya. Satelit kemudian menangkap sinyal dengan parabola, memperbesar sinyal dan menggunakan parabola lain untuk memancarkan sinyal kembali ke bumi, dimana pengguna dapat menangkapnya.

Saat sinyal mencapai rumah pengguna dan ditangkap oleh parabola satelit – sebuah antena khusus yang dirancang untuk fokus pada sumber siaran tertentu. Saat sebuah pancaran sampai di parabola, lalu sinyal radionya akan dipancarkan kedalam, pada satu titik tertentu. Kemudian low noise blockdown atau LNB akan menyaring sinyal radio yang berkumpul di sekitar parabola (dari sinyal radio yang tidak berisi siaran), kemudian menyalurkannya ke penerima satelit di dalam rumah pengguna.

Baca Juga: Venus LNBF Quad

Oke, akhirnya kita sampai juga pada komponen akhir sistem TV satelit, yaitu receiver atau penerima. Receiver mempunyai empat tugas penting:

  • Menyusun kembali sinyal yang terenkripsi.
  • Menangkap sinyal digital MPEG-2 atau MPEG-4 dan mengubahnya menjadi sebuah format analog yang dapat dikenali oleh televisi.
  • Mengekstrak saluran individual dari sinyal satelit yang lebih besar.
  • Memonitor program dengan sistem pay-per-view dan secara berkala menghubungi sebuah komputer di kantor pusat provider untuk melaporkan informasi tagihan.

Meskipun biaya TV satelit masih relatif mahal saat ini, tetapi keuntungan yang diberikan sangat sepadan dengan apa yang nanti anda dapatkan, seperti pilihan ratusan saluran dengan kualitas gambar dan suara yang super kece, dan juga memberikan akses pada siaran digital – bahkan hingga daerah pedesaan.


Sertifikasi SDPPI © 2015