Menguji Sang Debutan

Biasanya hanya ada dua kelanjutan kisah debutan: sukses pada penampilan perdana atau “gatot” alias gagal total. Bagaimana bila hal ini ditanyakan kepada Research in Motion (RIM)? Perusahaan itu meluncurkan debutannya, BlackBerry Bold, menjelang akhir Agustus lalu.

Sepekan terakhir, Tempo berkesempatan menguji coba handset yang dipasarkan pertengahan September ini. Bold adalah BlackBerry pertama yang mengandung jaringan HSDPA (high speed downlink packet access) atau lebih dikenal dengan istilah 3,5G. Gregory Wade, Presiden Direktur Regional Asia-Pasifik RIM, menambahkan, Bold didesain lebih modern ketimbang pendahulunya.

Ia dinamai Bold untuk mewakili tampilan layarnya yang sungguh menakjubkan. RIM menanamkan layar setengah VGA dengan resolusi 480 x 320 piksel dan 65 ribu warna. Dalam pengujian, tampilan gambar atau foto serta tayangan video terlihat begitu jernih tanpa blur. Bold, yang berwarna hitam dengan bingkai krom, bertubuh bongsor dengan sudut membulat. Namun, ini membuatnya terasa kukuh dalam genggaman.

Apalagi, pelindung baterai di belakang sudah dilapisi kulit. Ia pun terasa elegan dan lebih “wah” ketimbang handset BlackBerry lainnya. RIM kabarnya memberikan sentuhan lebih modern di sektor keyboard QWERTY-nya. Namun, itu tak terlalu nyata. Bold masih terlalu mirip dengan model 8830. Meski begitu, tombol keyboard yang kecil-kecil itu masih mudah diakses. Semua berkat adanya spasi yang cukup antar tombol. Bernavigasi ke menu juga dimudahkan dengan bola kecil bercahaya di bawah layar.

Nah, andalan Bold apalagi kalau bukan jaringan HSDPA. Konektivitas pita lebar nirkabel ini bisa mencapai kecepatan unduh sampai 7,2 megabit per detik. Tentu saja, tergantung layanan operator. Sebetulnya, rencana memasukkan HSDPA ke handset baru BlackBerry sudah lama tercium dari dapur RIM. Namun, sejak dulu RIM masih mempertimbangkan soal dampak boros baterai. Nah, dengan meluncurnya Bold, tampaknya persoalan tersebut sudah dipecahkan.

Dalam keterangan teknis disebutkan, Bold bisa berada pada posisi standby selama 13 hari, sedangkan waktu bicaranya lima jam. Sayang, kenyataannya ia tak setangguh itu.
Dengan pengisian penuh, baterai Bold bisa bertahan selama sekitar 2 x 24 jam untuk pemakaian e-mail nonstop, mengakses Internet melalui Wi-Fi, serta memainkan musik, memutar video, sampai menghibur diri dengan permainan.

Performanya diperkuat dengan prosesor Intel PXA270 bertenaga 624 MHz, jauh di atas handset BlackBerry lainnya (312 MHz). Secara teknis, pengoperasiannya terasa lebih cepat. Pada Bold yang diuji Tempo terdapat dua browser: Unite dan Hotspot. Halaman web bisa ditampilkan dalam format HTML penuh atau versi mobile.

Masalahnya, saat akses Internet berubah dari seluler menjadi Wi-Fi, browser pun harus segera diganti. Ini jelas merepotkan. Untuk urusan multimedia, RIM melengkapi Bold dengan kamera 2 megapiksel plus perekam video dan pembesaran sampai lima kali. Bold juga bisa memutar lagu digital dengan pengeras suara ganda yang bertenaga.

Perangkat ini sudah dilengkapi fasilitas global positioning system, penampil dan pengedit dokumen Office, dan layanan push e-mail. Fasilitas itulah merupakan utama BlackBerry selama ini. Lantas, sukseskah sang debutan? Di tangan Tempo, ia memang menjawab banyak kebutuhan aktivitas bisnis, bahkan hiburan. Namun, penentu kesuksesan adalah pasar. Bold masih harus membuktikan diri.
TEMPO Interaktif, Jakarta: DEDDY SINAGA
Image credit : mobileroar.com